Krisis Energi Dunia di Depan Mata, Bagaimana Strategi Indonesia ?

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian dunia setelah konflik militer antara Iran dan Israel memicu eskalasi serius di kawasan Teluk Persia. Dalam skenario terburuk, Iran menggunakan posisi strategisnya untuk membatasi lalu lintas kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz—jalur pelayaran sempit yang selama ini menjadi salah satu “urat nadi” distribusi energi global. Bagi negara-negara penghasil minyak di kawasan seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, selat ini merupakan pintu utama ekspor minyak menuju pasar internasional.

Setiap hari, sekitar 20 juta barel minyak—atau hampir 20% dari total konsumsi minyak dunia—melewati selat yang lebarnya hanya sekitar 33 kilometer tersebut. Sebagian besar aliran energi itu mengarah ke pasar Asia, termasuk China, Jepang, India, dan negara-negara Asia Tenggara yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah.

Negara-negara Asia Paling Terdampak

Dilansir dari kanal berita CNBC, sekitar 21 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz selama tahun 2024. Dari jumlah tersebut, sekitar empat perlima dikirim ke Asia. Karena itu, ketika jalur vital ini terganggu, tekanan paling awal dan paling besar langsung dirasakan negara-negara di Asia. Berikut daftar negara paling terdampak:

Diagram statistik ketergantungan impor minyak negara asia terhadap negara teluk (selat hormuz)

Selama bertahun-tahun, China menjadi salah satu konsumen energi terbesar dari negara-negara di kawasan Teluk. Walaupun proporsi ketergantungannya tidak setinggi beberapa negara Asia lainnya, sekitar 35% kebutuhan energi negeri tersebut masih dipenuhi dari wilayah itu.

Pada 2024, total nilai impor energi China mencapai sekitar US$413 miliar. Dengan volume perdagangan sebesar ini, setiap potensi gangguan distribusi dari kawasan Teluk tetap dipandang sebagai risiko strategis bagi pemerintah di Beijing.

Sementara itu, sejumlah negara Asia lain justru memiliki tingkat ketergantungan yang jauh lebih tinggi terhadap energi dari Timur Tengah.

Pakistan menjadi negara yang paling rentan karena sekitar 81% impor energinya bersumber dari kawasan Teluk. Setelah itu terdapat Jepang dengan porsi sekitar 57%, Thailand 56%, dan Korea Selatan sekitar 55%. Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa banyak negara di Asia masih sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah.

Dibandingkan negara-negara tersebut, tingkat ketergantungan Indonesia relatif lebih kecil. Sekitar 15% impor energi nasional berasal dari negara-negara Teluk.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti Indonesia sepenuhnya terbebas dari dampak risiko energi global. Ketika harga energi dunia mengalami lonjakan, efeknya tetap dapat dirasakan melalui meningkatnya biaya impor, tekanan terhadap inflasi, serta bertambahnya beban subsidi energi pemerintah.

Dampak lain juga mulai terlihat di sektor transportasi udara. Di beberapa negara Asia, maskapai penerbangan menghadapi tekanan akibat pasokan avtur yang semakin terbatas dan harganya yang terus naik. Situasi ini memicu peningkatan pembatalan penerbangan dan menyebabkan sebagian penumpang mengalami keterlambatan bahkan terlantar.

 

Resiko Distribusi Pangan dan Energi Afrika

Di kawasan Afrika, dampak konflik di Timur Tengah tidak dirasakan secara seragam oleh setiap negara. Tingkat ketergantungan terhadap pasokan energi dari kawasan Teluk berbeda-beda, sehingga tekanan yang muncul pun tidak merata. Negara yang sangat bergantung pada energi impor tentu akan menghadapi risiko yang jauh lebih besar ketika terjadi gangguan pasokan.

Diagram statistik ketergantungan impor minyak negara Afrika terhadap negara teluk (selat hormuz)

Mesir menjadi salah satu negara Afrika yang paling bergantung pada energi dari negara-negara Teluk, dengan sekitar 45% kebutuhan energinya dipenuhi dari kawasan tersebut. Ketergantungan ini menunjukkan betapa vitalnya pasokan energi luar negeri bagi stabilitas ekonomi dan aktivitas industrinya. Afrika Selatan juga memiliki ketergantungan yang cukup tinggi, yakni sekitar 33%. Sebaliknya, Nigeria berada pada posisi yang relatif lebih rendah dengan sekitar 12%, sehingga tekanan yang dihadapi tidak sebesar negara-negara yang lebih bergantung pada energi dari Timur Tengah.

Namun, ancaman yang muncul bagi negara-negara Afrika tidak hanya terbatas pada minyak dan gas semata.

Kawasan Teluk menjadi pilar penting dalam rantai pasok pupuk global karena energi melimpah di wilayah ini menjadi dasar produksi bahan baku pupuk. Jika pasokan energi terganggu atau harganya melonjak, biaya produksi pupuk hampir pasti ikut naik.

Dampaknya cepat merambat ke sektor pertanian. Harga pupuk meningkat, biaya produksi petani naik, dan pada akhirnya harga pangan ikut terdorong naik—terutama di negara berkembang. Untuk meredam gejolak, pemerintah biasanya meningkatkan subsidi. Namun bagi negara dengan anggaran terbatas, tekanan ini dapat langsung mengancam stabilitas ekonomi dan ketahanan nasional.

 

Imbas Tak Langsung pada Amerika

Di kawasan Amerika, khususnya Amerika Serikat (AS), posisi energi memang berbeda jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia maupun sebagian wilayah Eropa.

Amerika Serikat merupakan salah satu produsen minyak dan gas terbesar di dunia. Kapasitas produksi domestik yang besar membuat ketergantungan langsungnya terhadap pasokan energi dari negara-negara Teluk relatif lebih rendah dibandingkan banyak negara lain.

Diagram statistik ketergantungan impor minyak negara Amerika terhadap negara teluk (selat hormuz)

Di kawasan ini, Brasil memiliki tingkat ketergantungan sekitar 13% terhadap energi dari wilayah Teluk. Amerika Serikat berada di kisaran 10%, sedangkan Kanada sekitar 5%. Beberapa negara lain di benua Amerika bahkan memiliki porsi yang lebih kecil. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa secara struktural kawasan Amerika tidak terlalu terpapar secara langsung terhadap potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti kawasan ini sepenuhnya aman dari dampak gejolak energi global. Energi merupakan komponen fundamental dalam hampir seluruh aktivitas ekonomi, sehingga ketika harga minyak dunia melonjak, dampaknya tetap terasa secara luas melalui mekanisme harga internasional.

Kenaikan harga energi dapat segera tercermin pada meningkatnya harga bahan bakar, biaya transportasi, serta biaya operasional berbagai sektor industri. Di Amerika Serikat, perubahan ini bisa cepat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Harga bensin meningkat, maskapai penerbangan menghadapi lonjakan biaya avtur, dan tekanan inflasi pun ikut menguat.

Apabila inflasi kembali meningkat, efek lanjutan dapat merambat ke berbagai aspek ekonomi lain seperti kenaikan suku bunga, biaya kredit yang lebih mahal, hingga menurunnya daya beli masyarakat.

Dengan demikian, meskipun Amerika tidak terlalu bergantung secara langsung pada energi dari kawasan Teluk, negara-negara di benua ini tetap tidak sepenuhnya kebal terhadap dinamika harga energi global. Selama konflik berlangsung dan harga minyak tetap tinggi, tekanan ekonomi tetap akan terasa, meskipun jalur dampaknya berbeda dibandingkan negara-negara yang sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah.

 

Eropa : Pasokan Energi Tetap Menghantui Meskipun Bukan Suplai Utama

Jika dibandingkan dengan banyak negara di Asia, tingkat ketergantungan Eropa terhadap pasokan energi dari negara teluk memang relatif lebih kecil. Namun hal tersebut tidak serta-merta membuat kawasan ini terbebas dari potensi tekanan energi.

Diagram statistik ketergantungan impor minyak negara Eropa terhadap negara teluk (selat hormuz)

Dalam beberapa tahun terakhir, Eropa telah berulang kali menghadapi guncangan di sektor energi. Mulai dari dampak perang Rusia–Ukraina pada 2022 hingga perubahan besar dalam pola pasokan minyak dan gas yang memaksa banyak negara menyesuaikan strategi energinya.

Di antara negara-negara Eropa, Yunani termasuk yang paling bergantung pada energi dari negara Teluk, dengan sekitar 36% impor energinya berasal dari kawasan tersebut. Polandia berada di posisi berikutnya dengan 30%, disusul Italia sekitar 22%, serta Prancis sebesar 18%.

Negara besar lain seperti Inggris dan Belanda juga masih memiliki ketergantungan terhadap energi dari kawasan tersebut, meskipun dalam porsi yang lebih kecil, yakni masing-masing sekitar 11% dan 10%. Jika dilihat dari sisi persentase, tingkat ketergantungan ini memang masih lebih rendah dibandingkan banyak negara di Asia. Namun persoalan energi di Eropa tidak hanya ditentukan oleh besarnya porsi impor dari Teluk.

Kini Eropa masih berupaya memulihkan aktivitas industri dan mendorong kembali pertumbuhan ekonomi yang sempat melemah pasca pandemi Covid-19 silam dimana dalam kondisi seperti itu, lonjakan harga energi dapat menjadi tekanan tambahan bagi dunia usaha maupun masyarakat.

Sejak pasokan energi dari Rusia terganggu dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Eropa dipaksa melakukan penataan ulang terhadap rantai pasok energi mereka. Dalam konteks tersebut, kenaikan harga energi yang dipicu konflik di Timur Tengah tentu menjadi perkembangan yang kurang menguntungkan bagi kawasan ini.

 

Dampak Nyata bagi Indonesia

Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah. Karena itu, ketika harga minyak dunia melonjak, dampaknya langsung terasa pada keuangan negara. Dalam APBN 2026, pemerintah hanya menggunakan asumsi harga minyak sekitar US$70 per barel, sementara harga pasar sudah menembus US$100 per barel.

Selisih ini berpotensi memperbesar beban subsidi energi. Data pemerintah menunjukkan bahwa setiap kenaikan US$1 per barel dapat menambah belanja negara sekitar Rp10,3 triliun. Jika harga minyak bertahan sekitar US$30 lebih tinggi dari asumsi APBN, tambahan beban subsidi bisa mencapai lebih dari Rp200 triliun—angka yang hampir setara dengan total anggaran subsidi energi yang sudah dialokasikan.

Kondisi ini juga dapat mendorong defisit APBN melebar. Jika harga minyak tetap tinggi, defisit yang semula ditargetkan 2,5% dari PDB berpotensi melampaui batas aman 3%, bahkan bisa meningkat lebih jauh jika lonjakan harga berlanjut.

Dampaknya tidak berhenti pada anggaran negara. Kenaikan harga BBM dapat memicu inflasi, melemahkan rupiah, serta menekan daya beli masyarakat. Jika situasi ini berlangsung lama, tekanan terhadap ekonomi nasional akan semakin besar.

 

Strategi Indonesia Hadapi Instabilitas Impor Energi

Dalam rangka menghadapi kebijakan di selat Hormuz yang merupakan wilayah supremasi hukum Iran, pemerintah Indonesia telah menyampaikan beberapa kebijakan sebagai langkah antisipasi terhadap dampak konflik Iran terhadap perekonomian Indonesia. Berbagai strategi disiapkan untuk merespons dinamika ekonomi yang berkembang saat ini.

Berapa kebijakan umum telah diumumkan seperti 1 hari Work From Home (WFH) dalam 5 hari kerja bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), pembatasan pembelian bahan bakar subsidi, dan akselerasi pengembangan B50 atau Biosolar 50% di tahun 2026 ini.

 

Baca juga: Meninjau Implementasi B40 menuju B50 dan Kesiapan Infrastruktur

 

Dilansir dari situs resmi Sekretariat Negara Republik Indonesia, pejabat menteri ESDM Bahlil Lahadalia telah mengumumkan beberapa program yang diinstruksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam membangun ketahanan energi nasional, seperti pembangunan kilang modular dan penambahan storage tank minyak di berbagai wilayah Indonesia untuk memperkuat stok cadangan minyak nasional. Sehingga, dari awalnya cadangan stok minyak nasional adalah maksimal 25 hari, akan ditambahkan hingga 3 bulan (90 hari).

Sampai dengan pertengahan Maret 2026, pemerintah akan menggandeng pihak dalam negeri maupun swasta untuk proyek pembangunan storage tank minyak ini, dimana pemerintah juga akan memberi ruang untuk pihak swasta membangun storage tank dan membeli minyak mentah dari luar negeri untuk dipasarkan kedalam negeri. Hal ini dimungkinkan karena kebutuhan minyak Indonesia yang begitu besar dengan target 1 juta barel per hari.

Menteri ESDM juga mengungkapkan setidaknya akan dibangun 18 proyek hilirisasi energi dengan rincian terdiri dari delapan proyek hilirisasi di sektor mineral dan batu bara, dua proyek tentang hilirisasi energi, dua proyek ketahanan energi, tiga proyek hilirisasi pertanian, serta tiga proyek hilirisasi kelautan dan perikanan. Semua dibangun untuk membangun sinergisitas ketahanan energi.

Dari 18 proyek hilirisasi tersebut, termasuk di dalamnya ada proyek pembangunan kilang dan tangki minyak nantinya akan tersebar di 18 wilayah, antara lain di Lhokseumawe, Sibolga, Natuna, Cilegon, Sukabumi, Semarang, Surabaya, Sampang, Pontianak, Badung (Bali), Bima, Ende, Makassar, Dongala, Bitung, Ambon, Halmahera Utara, Fakfak.

 

Kebijakan Responsif Tidak Boleh Mengecilkan Aspek Keselamatan

Banyak pihak menilai kebijakan yang berdasarkan respon dari konflik Iran-Israel ini dinilai terlambat sehingga banyak pekerjaan yang terkesan “terburu-buru”, namun penting untuk diketahui baik secara nasional maupun internasional, semua pihak swasta maupun negara wajib memenuhi serangkaian persyaratan keamanan yang ketat – terutama untuk aspek energi minyak dan gas yang menuntut aspek zero faultness atau 0 kesalahan dan presisitas yang luar biasa akurat.

Meskipun kebutuhan akan pembangunan fasilitas storage tank migas harus dilakukan dalam akselerasi, aspek Keamanan dan Keselataman Kerja (K3) ini tetap dijalankan dengan optimal – dimulai dari konstruksi, instrumentasi hingga aspek elektrikal.

 

Baca juga: Apa itu K3 dan Bagaimana Penerapannya dalam Industri Hazardous Area?


Helon Indonesia : Tanggap Keamanan Elektrikal Hadapi Akselerasi Ketahanan Energi Nasional

Standar keamanan kilang dan storage tank minyak tetap wajib mematuhi standar keamanan

Percepatan pembangunan ketahanan energi nasional, khususnya di sektor minyak dan gas, menuntut kesiapan sistem elektrikal yang aman dan andal. Fasilitas seperti kilang, terminal penyimpanan, hingga pabrik petrokimia beroperasi di area berbahaya yang memiliki potensi gas dan uap mudah terbakar, sehingga penggunaan peralatan explosion proof menjadi kebutuhan utama untuk menjaga keselamatan operasional.

Dalam konteks ini, Helon Indonesia hadir tidak hanya sebagai distributor produk, tetapi sebagai mitra teknis yang mampu mendukung proyek secara menyeluruh. Meski produk Helon berasal dari manufaktur Tiongkok, seluruh proses teknis di Indonesia ditangani langsung oleh tim Helon Indonesia melalui pendekatan one-stop solution—mulai dari pekerjaan engineering drawing, procurement peralatan explosion proof, instalasi, hingga commissioning sistem.

Pendekatan satu pintu ini membuat proses proyek berjalan lebih cepat, koordinasi lebih efisien, dan implementasi teknis menjadi lebih akurat. Hal ini sangat penting untuk mendukung berbagai proyek energi yang sedang dipercepat pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional.

Bagi perusahaan yang sedang mengembangkan fasilitas migas, petrokimia, maupun industri berisiko tinggi lainnya, tim Helon Indonesia siap membantu memberikan konsultasi teknis serta kebutuhan pengadaan peralatan keamanan elektrikal explosion proof yang sesuai standar dan kebutuhan proyek Anda. 

Facebook
LinkedIn
X
WhatsApp
Threads
Email

Bingung Menentukan Mana Produk
Elektrikal Explosion Proof Equipment yang Ideal untuk Bisnis Anda?
Temukan Solusinya bersama Tim Sales Engineer Kami!

Kabar Terbaru Seputar Industri Explosion Proof